Dalam dunia musik yang terus berubah dengan cepat, selalu ada nama-nama baru yang muncul membawa warna berbeda. Tahun 2025 menjadi salah satu tahun paling dinamis bagi skena musik eksperimental, dan salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Aren Valerio, musisi muda dengan gaya produksi nyeleneh namun memikat.
Musiknya sering digambarkan sebagai percampuran antara ambient, glitch, elektronik minimalis, dan sentuhan folk modern. Walaupun terdengar tidak lazim bagi pendengar mainstream, justru itulah yang membuat namanya semakin sering muncul di playlist rekomendasi platform streaming.
Hevisike.com mendapat kesempatan untuk berbincang langsung dengan Aren dalam wawancara eksklusif. Ia bercerita tentang perjalanan kariernya, inspirasinya, hingga ambisinya untuk masa depan. Berikut kisah lengkapnya.
Awal Mula: Ketertarikan pada Suara yang Tidak Biasa
Aren tidak langsung masuk ke dunia musik eksperimental. Ia memulai dari jalur konvensional seperti kebanyakan musisi muda lainnya.
“Dulu aku main gitar akustik, cuma itu. Tapi makin lama, aku merasa ada suara lain yang ingin aku eksplor,” ungkapnya.
Keinginannya untuk “mencari suara” membuatnya mulai merekam bunyi-bunyi harian: gesekan benda, suara mesin, langkah kaki, deru kipas, bahkan dentingan sendok. Dari sinilah lahir ketertarikan pada sound design.
Ia mulai menggabungkan suara tersebut dengan melodi sederhana. Hasilnya? Track-track yang terasa sangat organik namun juga futuristik — kombinasi yang membuat pendengar penasaran.
Aren mengaku bahwa ia terinspirasi oleh musisi eksperimental internasional, namun tetap ingin mempertahankan identitas lokal dalam karyanya.
“Aku ingin musikku terasa dekat dengan rumah, tapi tetap punya energi dunia lain.”
Perjalanan Menuju Pengakuan: Dari Kamar Tidur ke Panggung Festival
Seperti banyak musisi independen, Aren memulai segalanya dari kamar tidurnya. Menggunakan laptop kelas menengah dan sepasang headphone lama, ia membuat lagu-lagu yang awalnya hanya didengar teman-temannya.
Namun salah satu karyanya tiba-tiba viral di platform video pendek. Bukan karena lagu tersebut dipromosikan secara besar-besaran, tetapi karena seorang kreator menggunakannya sebagai latar untuk video jalan kaki di tengah kota.
Dalam seminggu, videonya ditonton jutaan kali. Track milik Aren otomatis ikut naik hype.
“Aku bahkan nggak tahu kalau lagu itu mendadak viral. Temenku yang ngirim, katanya ‘Ren, lo masuk trending.’ Aku kira bercanda.”
Viralnya track tersebut membuat Aren mulai dilirik promotor. Ia pun mendapatkan undangan tampil di festival musik kecil, hingga akhirnya masuk ke festival besar yang menghadirkan deretan musisi internasional.
Menariknya, Aren tidak mengubah gaya musiknya agar “lebih komersial”. Ia tetap dengan karakter suara eksperimentalnya yang unik, dan justru itu yang membuat panggungnya dipadati penonton yang ingin merasakan pengalaman musik berbeda.
Proses Kreatif yang Unik: “Aku Mulai dari Suara, Bukan Melodi”
Ketika kami menanyakan proses kreatifnya, Aren tertawa kecil karena banyak orang mengira ia memulai dari chord atau melodi seperti musisi kebanyakan.
“Aku justru mulai dari suara yang menarik perhatianku. Bisa suara daun jatuh, bunyi air menetes, atau suara langkah kaki di parkiran.”
Baginya, suara sehari-hari punya karakter emosional tersendiri. Saat menemukan suara yang “berbicara” kepadanya, ia mulai mengolahnya hingga membentuk tekstur yang bisa menjadi kerangka lagu.
Aren menghabiskan banyak waktu membongkar dan menyusun ulang suara-suara itu hingga menjadi komposisi utuh.
“Kadang suara gerak pintu bisa jadi bassline. Kadang juga bunyi gesekan kain bisa jadi ritme. Itu yang bikin tiap lagu punya kepribadian sendiri.”
Pendekatannya ini membuat musiknya terasa hidup, tidak sekadar lagu elektronik, tapi seperti lanskap suara yang mempunyai cerita.
Tantangan dalam Genre Eksperimental: Antara Identitas dan Penerimaan Publik
Meskipun kini karyanya semakin dikenal, Aren mengakui bahwa berada dalam genre eksperimental bukan jalan yang mudah.
Musik eksperimental masih dianggap “aneh” atau “terlalu rumit” oleh sebagian pendengar. Tidak sedikit yang awalnya tidak paham apa yang ingin ia sampaikan.
Namun bagi Aren, tantangan ini justru jadi bahan bakar untuk terus berkarya.
“Aku tidak ingin musikku dipahami semua orang. Cukup yang mendengarkan benar-benar merasa terhubung.”
Ia juga menceritakan bahwa sempat mengalami masa ketika lagu-lagunya hampir tidak mendapatkan pendengar sama sekali. Tetapi ia tetap melanjutkan karena percaya bahwa musik eksperimental punya ruang tersendiri di industri modern.
Seiring waktu, semakin banyak pendengar yang terbuka dengan genre non-mainstream berkat platform streaming. Algoritma playlist alternatif dan curated playlist membuat musisi eksperimental seperti Aren mendapatkan tempat yang lebih luas.
Eksperimen Kolaborasi: Memperluas Batas Kreativitas
Salah satu hal menarik dari perjalanan Aren tahun ini adalah kolaborasinya dengan musisi dari genre berbeda. Ia pernah bekerja sama dengan penyanyi folk, rapper, bahkan seorang pemain seruling tradisional.
Dari semua pengalaman itu, ia mengaku mendapat banyak perspektif baru.
“Kolaborasi itu cara buat aku membongkar kebiasaan. Kadang aku merasa mentok, tapi ketika ada musisi lain masuk, energinya langsung berubah.”
Kolaborasi-kolaborasi tersebut menghasilkan beberapa track yang masuk rekomendasi platform musik, bahkan menembus playlist global untuk kategori ambient dan electronic experimental.
Aren percaya bahwa masa depan musik adalah hibrida: perpaduan antara yang tradisional dan yang futuristik.
Pengaruh Media Sosial & Ketertarikan Generasi Muda
Musik eksperimental mungkin tidak selalu masuk radio, tetapi di media sosial justru mendapatkan ruang baru. Banyak kreator konten menggunakan musik Aren sebagai latar untuk video estetik, vlog perjalanan, hingga konten cinematic.
Menurutnya, generasi muda lebih menerima musik yang tidak biasa karena mereka tumbuh dengan referensi visual dan audio yang beragam.
“Kita hidup di era dimana orang bisa suka tiga genre sekaligus. Tidak ada batas lagi. Itu bagus buat musisi seperti aku.”
Dengan banyaknya platform yang menyediakan akses cepat, musik eksperimental semakin mudah ditemukan, dan musisi seperti Aren mendapat momentum untuk berkembang.
Rencana Masa Depan: Album Konsep & Tur Mini
Ketika ditanya soal rencana ke depan, Aren terlihat antusias. Ia mengatakan sedang menyiapkan album konsep yang didesain seperti perjalanan ruang-waktu.
Album tersebut akan terdiri dari beberapa bab, dimana setiap lagu merepresentasikan suasana atau alam semesta tertentu.
Selain album, Aren juga merencanakan mini tour yang ingin ia tampilkan secara immersive. Bukan sekadar konser, tetapi pengalaman audio-visual.
“Aku ingin penonton merasa seperti masuk ke dunia lain. Musikku memang terlalu visual kalau hanya didengar. Aku ingin mereka merasakan atmosfirnya secara langsung.”
Rencana ini menunjukkan dedikasi Aren dalam membangun identitas artistiknya, bukan hanya sebagai musisi, tetapi juga kreator multidisiplin.
Kesimpulan: Suara Baru yang Patut Diikuti Perkembangannya
Perjalanan Aren Valerio adalah bukti bahwa musik eksperimental kini semakin mendapat tempat di hati pendengar modern. Dengan pendekatan kreatif yang unik, eksplorasi suara yang berani, dan konsistensi dalam menjaga identitas, ia berhasil keluar dari batas genre dan menciptakan ruangnya sendiri.
Bagi penggemar musik yang selalu mencari sesuatu yang berbeda, Aren adalah nama yang wajib masuk radar. Musiknya bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dirasakan — dan itu membuatnya menonjol di tengah industri yang semakin padat.