Analisis kritis fenomena romantisasi kemiskinan dalam film dan konten media digital. Mengapa penderitaan kelas bawah kerap dijadikan komoditas tontonan?
Beberapa tahun terakhir, jika kita berselancar di platform video digital atau menyalakan televisi, kita akan dengan mudah menemukan sebuah pola konten yang seragam: kamera menyorot seorang paruh baya yang sedang kepayahan memikul beban dagangannya di bawah terik matahari, lalu seorang kreator konten datang dengan mobil mewah, memberikan segepok uang, dan video ditutup dengan tangisan haru sang penerima bantuan diiringi musik latar yang menyayat hati. Konten sejenis ini meraup jutaan penonton, ribuan komentar pujian, dan tentu saja, pundi-pundi adsense yang tidak sedikit bagi si pembuat konten.
Fenomena ini tidak hanya berhenti di ranah media sosial. Dalam industri sinema dan sinetron kita, potret kemiskinan sering kali disajikan dengan formula yang sangat spesifik: tokoh miskin yang tertindas, selalu pasrah, rajin beribadah, dan pada akhirnya mendapatkan keajaiban atau kekayaan mendadak tanpa ada penjelasan logis mengenai perubahan nasibnya.
Pertanyaannya, mengapa kita sebagai masyarakat begitu gemar mengonsumsi narasi penderitaan ini? Ada garis tipis yang memisahkan antara empati tulus dengan romantisasi kemiskinan di media. Ketika kemiskinan tidak lagi dilihat sebagai sebuah masalah struktural yang mendesak untuk diselesaikan, melainkan sebagai komoditas hiburan yang estetik dan menenangkan hati, di situlah kita sedang menghadapi sebuah krisis moralitas budaya yang akut.
Estetisasi Penderitaan: Ketika Kemiskinan Dianggap “Indah”
Romantisasi kemiskinan (poverty porn) bekerja dengan cara mengubah realita pahit ketimpangan kelas menjadi sebuah narasi yang nyaman dikonsumsi oleh kelas menengah dan atas. Dalam produk media, kemiskinan sering kali mengalami proses “estetisasi”. Pemukiman kumuh dipotret dengan sudut pengambilan gambar (angle) yang eksotis, anak-anak jalanan digambarkan sebagai sosok yang selalu ceria bermain lumpur tanpa beban, dan perjuangan hidup yang tidak manusiawi dibungkus dengan narasi ketabahan yang luar biasa.
Melalui pembingkaian (framing) seperti ini, media seolah ingin mengatakan bahwa menjadi miskin itu tidak apa-apa, asalkan tetap bersyukur. Narasi “miskin tapi bahagia” atau “miskin tapi jujur” adalah bentuk penjinakan sosial yang sangat berbahaya. Efeknya, penonton yang hidup berkecukupan tidak akan merasa bersalah melihat ketimpangan di depan mata mereka. Mereka justru akan merasa terinspirasi, mendapatkan suntikan moral instan, lalu melanjutkan hidup mereka tanpa pernah mempertanyakan mengapa ketimpangan tersebut bisa terjadi sejak awal.
Kemiskinan yang romantis adalah kemiskinan yang tidak menuntut apa-apa. Ia tidak menuntut reformasi kebijakan, tidak menuntut keadilan upah, dan tidak menggugat kenyamanan kelas penguasa. Ia hanya menuntut satu hal dari penontonnya: rasa kasihan yang berdurasi beberapa menit.
Mitos Individualisme dalam Narasi “Sukses dari Nol”
Selain menjual air mata, romantisasi kemiskinan di media juga gemar mengagungkan mitos hustle-and-bustle atau kisah perjuangan individu dari titik nadir menuju puncak kesuksesan (rags-to-riches). Kita sering melihat profil seorang anak pemulung yang berhasil kuliah di luar negeri, atau seorang pedagang kaki lima yang kini menjadi pemilik gurita bisnis.
Tentu saja, kita tidak boleh mendiskreditkan kerja keras dan pencapaian luar biasa dari individu-individu tersebut. Mereka layak mendapatkan apresiasi tertinggi. Namun, masalah terjadi ketika media menggunakan kisah-kisah anomali ini sebagai standar umum. Media membangun narasi bahwa jika satu orang miskin bisa sukses karena kerja keras, maka orang miskin lainnya yang belum sukses berarti kurang bekerja keras atau kurang berdoa.
Ini adalah bentuk simplifikasi yang mengabaikan realita struktural. Media sengaja menutup mata dari fakta bahwa kemiskinan di dunia nyata adalah sebuah lingkaran setan yang dikunci oleh sistem. Akses pendidikan berkualitas yang mahal, fasilitas kesehatan yang tidak merata, hingga ketiadaan modal dan relasi sosial (social capital) adalah tembok raksasa yang tidak bisa runtuh hanya dengan modal “semangat” dan “kerja keras”. Mengurangi isu kemiskinan menjadi sekadar urusan motivasi individu adalah cara paling efisien untuk membebaskan sistem ekonomi yang tidak adil dari tanggung jawabnya.
Katarsis Murah dan Eksploitasi Kemartiran Kelas Bawah
Mengapa konten-konten poverty porn begitu laris manis? Jawabannya ada pada konsep psikologis bernama katarsis emosional. Menonton penderitaan orang lain memberikan semacam kepuasan psikologis tersendiri bagi penonton kelas menengah urban yang juga sedang mengalami tekanan hidup (meski dalam level yang berbeda).
Saat menyaksikan orang lain yang hidupnya jauh lebih tragis, muncul rasa syukur yang egois di dalam benak: “Untung hidup saya tidak seburuk itu.” Penderitaan orang miskin di media berfungsi sebagai cermin pembanding yang membuat hidup penonton terasa lebih baik secara instan.
Lebih jauh lagi, konten filantropi kamera—di mana orang miskin diberi bantuan di depan lensa—menawarkan sebuah validasi moral yang murah. Penonton merasa telah berbuat baik hanya dengan memberikan like, share, atau menonton video tersebut sampai habis. Orang miskin dieksploitasi kemartirannya; mereka dipaksa menelanjangi martabat dan penderitaan mereka di depan kamera demi menebus rasa bersalah kolektif masyarakat yang hidup nyaman di atas ketimpangan.
Sinema yang Meninabobokan vs Sinema yang Menggugah
Jika kita melihat sejarah sinema dunia, kemiskinan sebenarnya bisa menjadi bahan bakar yang sangat kuat untuk melahirkan kritik sosial yang revolusioner. Film-film seperti Parasite (Korea Selatan) atau Shoplifters (Jepang) berhasil memotret kemiskinan tanpa sedetik pun meromantisasinya. Film-film tersebut menyajikan kemiskinan dengan segala kepahitan, keputusasaan, dan degradasi moral yang terpaksa dilakukan oleh karakternya demi bertahan hidup. Mereka tidak menyajikan karakter miskin yang suci tanpa noda, melainkan manusia biasa yang hancur karena dihantam oleh sistem yang kejam.
Sayangnya, sebagian besar lanskap media dan sinema kita masih enggan mengambil jalur kritis tersebut. Industri lebih memilih memproduksi tontonan yang “meninabobokan”—yang memberikan akhir bahagia instan di mana si miskin tiba-tiba menang undian, mendapat warisan dari orang kaya baru, atau dinikahi oleh seorang konglomerat. Tontonan seperti ini tidak mengajak penonton untuk berpikir kritis, melainkan memberi ilusi atau candu agar masyarakat tetap diam dan berharap pada keajaiban, alih-alih menuntut perubahan yang nyata.
Kesimpulan: Mengembalikan Martabat dalam Narasi Kemanusiaan
Melawan romantisasi kemiskinan di media bukan berarti kita harus berhenti membuat atau menonton karya yang mengangkat isu kemiskinan. Menghapus total isu kemiskinan dari layar justru akan membuat kelompok marjinal ini semakin terasing dan tidak terlihat (invisible).
Yang perlu diubah adalah cara pandang (lens) yang digunakan. Kita harus mulai menolak tontonan yang menjadikan kemiskinan sebagai sirkus hiburan dan eksploitasi air mata demi komodifikasi digital. Industri kreatif, jurnalis, dan kreator konten harus memiliki tanggung jawab moral untuk menyajikan kemiskinan sebagai sebuah realita struktural yang problematik.
Narasi yang dibangun harus bisa memicu pertanyaan-pertanyaan penting: Mengapa upah buruh begitu murah? Mengapa ruang hidup mereka digusur? Mengapa hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas? Hanya dengan cara itulah, kita bisa mengembalikan martabat kemanusiaan kelas bawah yang selama ini dirampas oleh industri hiburan. Berhenti meromantisasi penderitaan mereka, dan mulailah melihat mereka sebagai manusia seutuhnya yang sedang dikhianati oleh keadaan.