Pendahuluan: Anemoia dan Kerinduan pada Era yang Tak Pernah Dialami
Ada sebuah fenomena psikologis unik yang disebut anemoia—sebuah perasaan rindu yang mendalam terhadap masa lalu yang belum pernah kita jalani secara langsung. Fenomena inilah yang saat ini sedang melanda telinga pendengar muda Indonesia, khususnya Generasi Z. Di tengah gempuran musik elektronik yang agresif atau pop melayu yang mendayu, muncul sebuah gelombang suara yang terasa familiar namun segar: City Pop.
Kebangkitan City Pop Indonesia bukan sekadar tren sesaat yang numpang lewat di FYP TikTok. Ia adalah sebuah gerakan kebudayaan yang menyatukan estetika visual retro, kemahiran musikalitas era 80-an, dan kerinduan kolektif akan suasana perkotaan yang optimis namun melankolis. Musisi seperti Diskoria, Vira Talisa, hingga grup seperti Lomba Sihir, berhasil menghidupkan kembali nuansa ini, membuktikan bahwa musik berkualitas tidak memiliki tanggal kedaluwarsa.
1. Akar Sejarah: Dari Tokyo ke Jakarta (Era Pop Kreatif)
Untuk memahami kebangkitan city pop Indonesia saat ini, kita harus kembali ke akhir 1970-an dan awal 1980-an. City pop awalnya lahir di Jepang sebagai produk sampingan dari ledakan ekonomi mereka. Namun, di saat yang hampir bersamaan, Indonesia mengalami era yang kita kenal sebagai “Pop Kreatif”.
Musisi legendaris seperti Fariz RM, Chrisye (terutama di album Badai Pasti Berlalu dan Metropolitan), serta grup vokal seperti Chaseiro, menciptakan fondasi suara yang sangat mirip dengan city pop Jepang. Karakteristiknya adalah penggunaan synthesizer yang dominan, aransemen brass section yang megah, dan bassline yang sangat progresif (funk/disco).
Gen Z menemukan kembali harta karun ini melalui penggalian digital (digital digging). Ketika lagu Fariz RM yang berjudul “Sakura” atau lagu Chrisye “Cintaku” diaransemen ulang atau dimainkan di kelab malam modern, mereka tidak mendengar sesuatu yang “kuno”, melainkan sesuatu yang “mahal” secara musikalitas.
2. Anatomi Suara: Antara Analog yang Hangat dan Digital yang Bersih
Mengapa City Pop begitu enak didengar? Secara teknis, genre ini menawarkan pelarian dari produksi musik modern yang seringkali terasa terlalu “terkompresi” dan kaku.
A. Karakteristik Aransemen
City pop mengandalkan harmoni yang kompleks, seringkali meminjam progresi akord dari jazz namun dibungkus dalam kemasan pop yang mudah dicerna. Penggunaan slap bass yang groovy memberikan dorongan energi yang membuat lagu-lagunya terasa “dansable” (bisa dipakai berdansa), meski liriknya mungkin bercerita tentang patah hati di bawah lampu kota.
B. Teknologi Instrumen
Estetika City Pop sangat bergantung pada instrumen vintage. Penggunaan synthesizer ikonik seperti Yamaha DX7 atau Roland Juno-60 memberikan tekstur suara yang “berkilau” (sparkly) namun tetap memiliki kehangatan analog. Di era sekarang, musisi Indonesia menggabungkan tekstur analog ini dengan teknik clean production modern. Hasilnya? Musik yang terdengar megah di sound system besar, namun tetap jernih saat didengarkan melalui TWS atau earphone murah.
3. Estetika Visual: Lebih dari Sekadar Musik
Salah satu alasan utama kebangkitan city pop Indonesia di kalangan Gen Z adalah keterkaitannya yang erat dengan estetika visual. City Pop tidak bisa dipisahkan dari gaya visual vaporwave dan anime retro era 80-an.
Warna-warna pastel, ilustrasi cakrawala kota di malam hari, mobil sport klasik, dan pemandangan pantai adalah elemen visual yang sangat “Instagrammable” dan “Aesthetic”. Bagi Gen Z, mengonsumsi City Pop bukan hanya soal mendengarkan lagu, tapi tentang mengadopsi sebuah gaya hidup. Mengunggah foto di kafe dengan filter grainy sambil menyematkan lagu Vira Talisa “Janji Putih” di Story adalah sebuah pernyataan identitas.
4. Peran Platform Digital dan Algoritma
Kita tidak bisa mengabaikan peran algoritma YouTube. Ledakan City Pop global dimulai ketika lagu Mariya Takeuchi, “Plastic Love”, secara misterius muncul di rekomendasi jutaan pengguna di seluruh dunia. Fenomena ini merembet ke Indonesia.
Kanal-kanal YouTube seperti Terminal Musik atau kolektif DJ seperti Diskoria mulai menggali kembali piringan hitam lama Indonesia. Mereka melakukan kurasi ulang dan memperkenalkannya kepada audiens yang lebih muda. TikTok kemudian menyempurnakannya. Potongan lagu “C.H.R.I.S.Y.E” hasil kolaborasi Diskoria, Laleilmanino, dan Eva Celia, menjadi lagu wajib bagi jutaan video pendek, mempercepat proses normalisasi suara retro di telinga masyarakat umum.
5. City Pop sebagai Eskapisme Perkotaan
Gen Z adalah generasi yang paling terpapar oleh tekanan dunia digital dan ketidakpastian masa depan. Dalam konteks ini, City Pop menawarkan eskapisme yang sempurna. Musik ini menggambarkan kehidupan urban yang ideal: berkendara di jalan tol di malam hari, cahaya lampu gedung yang membiaskan warna, dan romantisme yang elegan.
City Pop memberikan ruang bagi pendengarnya untuk merasa melankolis namun tetap bergaya. Lirik-liriknya seringkali berbicara tentang kesepian di tengah keramaian, sebuah perasaan yang sangat relevan dengan kehidupan anak muda di kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya saat ini. Ia memberikan “soundtrack” bagi keseharian mereka yang monoton menjadi terasa seperti adegan film retro yang indah.
6. Musisi Kunci di Balik Layar
Beberapa nama yang menjadi motor penggerak kebangkitan city pop Indonesia antara lain:
- Diskoria: Duo DJ ini adalah pahlawan yang membawa lagu-lagu disko Indonesia lama kembali ke lantai dansa. Mereka berhasil membuat anak muda bangga menyanyikan lagu-lagu era 80-an.
- Vira Talisa: Dengan vokal yang lembut dan pengaruh musik Prancis-Indonesia, ia membawa sisi City Pop yang lebih santai dan bernuansa pantai (beachy).
- White Shoes & The Couples Company: Meski lebih luas dari sekadar City Pop, mereka adalah pionir yang konsisten menjaga estetika retro di industri indie Indonesia selama dua dekade terakhir.
- Lomba Sihir: Mewakili sisi City Pop yang lebih modern, sinis, namun tetap memiliki aransemen pop yang sangat cerdas.
7. Masa Depan Genre: Bukan Sekadar Nostalgia
Apakah tren ini akan bertahan? Indikasi menunjukkan bahwa City Pop telah berevolusi menjadi salah satu sub-genre permanen dalam pop Indonesia. Musisi muda tidak lagi sekadar meniru, tapi mulai melakukan eksperimen. Kita melihat adanya perpaduan antara City Pop dengan elemen R&B kontemporer, hip-hop, bahkan musik folk.
Hal ini menunjukkan bahwa apresiasi terhadap musikalitas era 80-an yang dipadukan dengan produksi modern telah menciptakan standar baru dalam industri musik lokal. Pendengar kini lebih menghargai kejernihan instrumen, kompleksitas aransemen, dan kualitas produksi yang tinggi.
Kesimpulan: Harmoni Antar Generasi
Kebangkitan City Pop Indonesia adalah bukti bahwa musik yang bagus akan selalu menemukan jalannya kembali ke permukaan. Bagi Gen Z, City Pop adalah cara mereka terhubung dengan akar budaya musik orang tua mereka, namun dengan cara yang tetap relevan dengan zaman mereka.
Ini adalah perayaan atas kreativitas musisi masa lalu yang kini diteruskan oleh tangan-tangan kreatif musisi masa kini. Selama masih ada lampu kota yang berpijar di malam hari dan kerinduan akan suasana yang hangat, City Pop akan terus menggema di telinga kita.
Hevisike mendukung setiap perkembangan genre musik di Indonesia. Apa lagu City Pop lokal favoritmu yang selalu ada di playlist? Tulis di kolom komentar dan mari kita bernostalgia bersama!